Mataram, 27 Mei 2025 — Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menggelar Rapat Koordinasi Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Provinsi NTB Tahun 2025 yang berlangsung di Hotel Prime Park, Mataram, Selasa (27/05/2025). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala DPMPTSP Provinsi NTB, Hj. Eva Dewiyani, S.P., dan dihadiri oleh seluruh Kepala DPMPTSP Kabupaten/Kota se-NTB serta perwakilan OPD terkait di tingkat Provinsi.
Dalam sambutannya, Hj. Eva Dewiyani menekankan pentingnya sinkronisasi data dan pemetaan potensi yang akurat sebagai dasar perencanaan investasi tahun mendatang. “Melalui rapat ini, kita akan mengumpulkan data makro dari masing-masing kabupaten/kota, termasuk capaian realisasi investasi dan perkembangan investasi terbaru. Semua data tersebut akan kita bahas dan finalisasi pada rapat lanjutan besok (28/05), yang akan dihadiri oleh seluruh kepala dinas DPMPTSP se-NTB,” ujar Hj. Eva.
Lebih lanjut, beliau berharap masing-masing daerah telah membawa data yang lengkap dan komprehensif, sehingga dapat memperkuat arah kebijakan promosi investasi NTB tahun 2025 secara lebih terarah dan berbasis potensi unggulan daerah.
Rakor ini juga menjadi wadah diskusi dan penyampaian kondisi terkini dari daerah. Beberapa DPMPTSP Kabupaten/Kota menyampaikan sejumlah catatan dan tantangan yang dihadapi, antara lain:
1. Beberapa kabupaten seperti Dompu dan Bima masih bertumpu pada sektor produksi berbasis bahan baku lokal seperti padi dan jagung, yang hingga kini tercatat surplus dan telah dikirim ke berbagai daerah.
2. Peningkatan jumlah silo penjemuran jagung di Kabupaten Sumbawa menjadi indikator positif atas kesiapan daerah dalam menjamin ketersediaan bahan baku.
3. Kabupaten Lombok Barat menghadapi tantangan keterbatasan lahan pertanian yang semakin menyempit akibat alih fungsi lahan, yang mengancam keberlanjutan produksi sektor pertanian.
4. Kabupaten Bima dengan potensi bawang merah dan Kabupaten Lombok Timur dengan bawang putih di Sembalun menekankan pentingnya upaya penciptaan nilai tambah dari komoditas tersebut.
.
5. Dalam penyusunan peta potensi, sejumlah daerah mendorong agar dilakukan penajaman (stressing) per sektor secara spesifik, agar strategi pengembangan investasi lebih tepat sasaran.
.
6. Beberapa peserta juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan daerah terkait alih fungsi lahan pertanian agar tidak mengganggu produktivitas sektor pertanian unggulan.
.
Rapat ini menjadi bagian penting dari upaya Pemprov NTB dalam merumuskan strategi investasi yang inklusif, berbasis potensi lokal, dan berkelanjutan, guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara merata.

